Jumat, 04 April 2008

PENGGERGAJIAN BATU ALAM & PENGRAJIN BATU UKIR

dimana-mana didesa maupun dikota telah banyak Pembangunan rumah, restoran, perkantoran dan apartemen, rasanya tidak pernah berhenti. Ruangan-ruangan yang dibangunpun bukan hanya sekedar tempat berteduh, duduk, bekerja, makan dan tidur. Kebutuhan sebagian manusia Indonesiapun sudah meningkat, mereka memerlukan kenyamanan, suasana dan lingkungan yang bisa meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas. Perkembangan inilah yang memberikan peluang baru bagi usaha interior desain, lanskap, dan produk pelengkap keindahan dan keserasian.Di Jabodetabek ini kita banyak mendapati pedagang-pedagang dan pengrajin berbagai kerajinan dari batu, paras, dan semen. Ada yang mendatangkan produknya dari Bali dan ada juga yang berasal daru Gunung Kidul – Yogyakarta. Produk kerajinan hiasan batu dari Bali dan Gunung Kidul dan daerah lainnya juga telah merambah kemanca negara. Selama ini kita sering membayangkan usaha yang ada di Gunung Kidul merupakan usaha mikro atau kecil sekali, merupakan usaha rumah tangga yang hanya bisa memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga. Tetapi kenyataannya sekarang sudah berubah, sudah banyak usaha-usaha kecil, pelaku ekonomi rakyat, yang usahanya sudah merupakan perusahaan. Demikian juga halnya dalam usaha kerajinan batu alam. Kali ini kita masih berada di Gunung Kidul, tepatnya di dusun trengguno, desa sidorejo, kecamatn ponjong, kabupaten gunungkidul daerah istimewa yogyakarta . Sejak tahun 1998 marsaid telah memulai usaha kerajinan batu alam, dengan modal investasi mencapai ratusan juta rupiah. Selain menggunakan uang sendiri, modal juga didapat dari perbankan. Modal yang agak besar ini digunakan untuk pembelian genset, berbagai jenis alat pemotong batu, dan peralatan pengukir batu. Sekarang ini usahanya memberikan penghidupan bagi 15 orang tenaga kerja. Dengan fasilitas produksi dan tenaga kerja yang dimilikinya, setiap hari bisa diproduksi sekitar 70 m2 batu tempel, dan 10-50 buah beragam bentuk kerajinan/handicraft dalam berbagai ukuran. Keuntungan yang didapat dari usahanya ini tidak besar, tapi yang penting memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitarnya dan memanfaatkan bahan baku lokal. Dengan bermunculannya perusahaan yang baru, sekarang ini terjadi persaingan yang tidak sehat diantara produsen kerajinan batu alam. Harga menjadi turun dan barang banyak menumpuk. Pemasaran kerajinan untuk interiorpun mengalami hambatan, diperlukan bantuan untuk membuat desain yang trendy dan digemari masyarakat kota. marsaid dan kawan-kawannya di Gunung Kidul mengharapkan bantual modal dengan syarat lunak untuk terus mengembangkan usahanya.

1 komentar:

Mamad mengatakan...

hallo lam knal....trus gimana prospeknya perusahaan batu ukir di gunungkidul...mampukah berkembang ke luar negeri dengan cara bisnis online...bls...